Harus Dari Mana Mulainya?

20 04 2008

Ini adalah sebuah tulisan yang benar-benar membuat saya terharu, sedih, marah, dan sekaligus bingung!.Kita yakin di belahan indonesia yang lain pasti ada lagi potret-potret yang tidak terekam (jauh lebih banyak, jauh lebih memprihatinkan), silahkan disimak….

Sepulang dari pengajian rutin beberapa hari lalu, saya berdiri di tepi trotoar daerah Klender. Angkot yang ditunggu belum jua lewat, sedang matahari kian memancar terik. Entah mengapa, kedua mata saya tertarik untuk memperhatikan seorang bapak tua yang tengah termangu di tepi jalan dengan sebuah gerobak kecil yang kosong. Bapak itu duduk di trotoar. Matanya memandang kosong ke arah jalan.

Saya mendekatinya. Kami pun terlibat obrolan ringan. Pak Jumari, demikian namanya, adalah seorang penjual minyak tanah keliling yang biasa menjajakan barang dagangannya di daerah Pondok Kopi, Jakarta Timur. “Tapi kok gerobaknya kosong Pak, mana kaleng-kaleng minyaknya?” tanya saya. Pak Jumari tersenyum kecut. Sambil menghembuskan nafas panjang-panjang seakan hendak melepas semua beban yang ada di dadanya, lelaki berusia limapuluh dua tahun ini menggeleng. “Gak ada minyaknya.”

Bapak empat anak ini bercerita jika dia tengah bingung. Mei depan,katanya, pemerintah akan mencabut subsidi harga minyak tanah. “Saya bingung. saya pasti gak bisa lagi jualan minyak. Saya gak tahu lagi harus jualan apa. modal gak ada.keterampilan gak punya..” Pak Jumari bercerita. Kedua matanya menatap kosong memandang jalanan. Tiba-tiba kedua matanya basah. Dua bulir air segera turun melewati pipinya yang cekung.
“Maaf  dik, saya menangis, saya benar-benar bingung mau makan apa kami kelak.., ” ujarnya lagi. Kedua bahunya terguncang menahan tangis. Saya tidak mampu untuk menolongnya dan hanya bisa menghibur dengan kata-kata.Tangan saya mengusap punggungnya. Saya tahu ini tidak mampu mengurangibeban hidupnya.

Pak Jumari bercerita jika anaknya yang paling besar kabur entah ke mana. “Dia kabur dari rumah ketika saya sudah tidak kuat lagi bayar sekolahnya di SMP. Dia mungkin malu. Sampai sekarang saya tidak pernah lagi melihat dia.. Adiknya juga putus sekolah dan sekarang ngamen di jalan. Sedangkan dua adiknya lagi ikut ibunya ngamen di kereta. Entah sampai kapan kami begini .”

Mendengar penuturannya, kedua mata saya ikut basah.
Pak Jumari mengusap kedua matanya dengan handuk kecil lusuh yang melingkar di leher. “Dik, katanya adik wartawan.. tolong bilang kepada pemerintah kita, kepada bapak-bapak yang duduk di atas sana, keadaan saya dan banyak orang seperti saya ini sungguh-sungguh berat sekarang ini. Saya dan orang-orang seperti saya ini cuma mau hidup sederhana, punya rumah kecil, bisa nyekolahin anak, bisa makan tiap hari, itu saja.” Kedua mata Pak Jumari menatap saya dengan sungguh-sungguh.

“Dik, mungkin orang-orang seperti kami ini lebih baik mati… mungkin kehidupan di sana lebih baik daripada di sini yah…” Pak Jumari menerawang.

Saya tercekat. Tak mampu berkata apa-apa. Saya tidak sampai hati menceritakan keadaan sesungguhnya yang dilakukan oleh para pejabat kita, oleh mereka-mereka yang duduk di atas singgasananya. Saya yakin Pak Jumari juga sudah tahu dan saya hanya mengangguk. Mereka, orang-orang seperti Pak Jumari itu telah bekerja siang malam membanting tulang memeras keringat, bahkan mungkin jika perlu memeras darah pun mereka mau. Namun kemiskinan tetap melilit kehidupannya. Mereka sangat rajin bekerja, tetapi mereka tetap melarat.

Kontras sekali dengan para pejabat kita yang seenaknya numpang hidup mewah dari hasil merampok uang rakyat. Uang rakyat yang disebut ‘anggaran negara’ digunakan untuk membeli mobil dinas yang mewah, fasilitas alat komunikasi yang canggih, rumah dinas yang megah, gaji dan honor yang gede-gedean, uang rapat, uang transport, uang makan, akomodasi hotel berbintang nan gemerlap, dan segala macam fasilitas gila lainnya. **Mumpung ada anggaran negara maka sikat sajalah! **

Inilah para perampok berdasi dan bersedan mewah, yang seharusnya bekerja untuk mensejahterakan rakyatnya namun malah berkhianat mensejahterakan  diri, keluarga, dan kelompoknya sendiri. Inilah para lintah darat yang menghisap dengan serakah keringat, darah, tulang hingga sum-sum rakyatnya sendiri. Mereka sama sekali tidak perduli betapa rakyatnya kian hari kian susah bernafas. Mereka tidak pernah perduli. Betapa zalimnya pemerintahan kita ini!

Subsidi untuk rakyat kecil mereka hilangkan. Tapi subsidi agar para pejabat bisa hidup mewah terus saja berlangsung. Ketika rakyat antri minyak berhari-hari, para pejabat kita enak-enakan keliling dalam mobil mewah yang dibeli dari uang rakyat, menginap berhari-hari di kasur empuk hotel berbintang yang dibiayai dari uang rakyat, dan melancong ke luar negeri berkedok studi banding, juga dari uang rakyat.

Sepanjang jalan, di dalam angkot, hati saya menangis. Bocah-bocah kecil berbaju lusuh bergantian turun naik angkot mengamen. Di perempatan lampu merah, beberapa bocah perempuan berkerudung menengadahkan tangan. Di tepi jalan, poster-poster pilkada ditempel dengan norak. Perut saya mual dibuatnya.

Setibanya di rumah, saya peluk dan cium anak saya satu-satunya. “Nak, ini nasi bungkus yang engkau minta.” Dia makan dengan lahap. Saya tatap dirinya dengan penuh kebahagiaan. “Alhamdulillah, saya masih mampu menghidupi keluarga dengan uang halal hasil keringat sendiri, bukan numpang hidup dari fasilitas negara, mengutak-atik anggaran negara yang sesungguhnya uang rakyat, atau bagai lintah yang mengisap kekayaan negara.”

Saat malam tiba, wajah Pak Jumari kembali membayang. Saya tidak tahu apakah malam ini dia tidur dengan perut kenyang atau tidak. Saya berdoa agar Allah senantiasa menjaga dan menolong orang-orang seperti Pak Jumari, dan memberi hidayah kepada para pejabat kita yang korup. Mudah-mudahan mereka bisa kembali ke jalan yang benar. Mudah-mudahan mereka bisa kembali paham bahwa jabatan adalah amanah yang harus dipertanggungjawabk an di mahkamah akhir kelak. Mudah-mudahan mereka masih punya nurani dan mau melihat ke bawah.

Mudah-mudahan mereka bisa lebih sering naik angkot untuk bisa mencium keringat anak-anak negeri ini yang harus bekerja hingga malam demi sesuap nasi, bukan berkeliling kota naik sedan mewah…

Mudah-mudahan mereka lebih sering menemui para dhuafa, bukan menemui konglomerat dan pejabat… Mudah-mudahan mereka lebih sering berkeliling ke wilayah-wilayah kumuh, bukan ke mal…

Amien Ya Allah.

———— ——— ——— ———
Wass.





Heran….?!

25 03 2008




Potensi Daya Saing Indonesia Part I

22 03 2008




BERANTAS KORUPSI MELALUI PENDIDIKAN *)

5 02 2008




Berkenalan Dengan Geothermal Yuk part 1….*)

15 11 2007




Hubungan antara pendidikan formal dengan kesempatan untuk bekerja *)

7 11 2007

Sebagai seorang mahasiwa yang sehari-hari mengenyam pendidikan formal, penulis sering bertanya kepada diri sendiri….apakah pendidiakn yang sedang penulis tempuh berkorelasi positif dengn kesempatan bekerja yang akan didapat setelah menyelesaikan pendidikan formal ini.

Kenapa bertanya seperti ini ya karena bil gates yang nyata-nyata tidak menyandang pendidkan formal tapi sangat sukses (oh mungkin karena dia orang barat…) oke penulis kasih contoh orang Indonesia deh.yap Purdi E Chandra salah satu contohnya sebelum lulus kuliah dia telah sukses merintis primagama.Selama ini penulis sering dipusingkan dengan permasalahan ip…(he…he….maklum pas-pasan) kenapa? Ya karena kalo saja ip itu dibawah 3 penulis akan sulit untuk diterima di dunia industry, karena sekarang banyak sekali yang mensyaratkan bahwa ipk minimal 3.Tapi selayaknya kita bertanya apakah orang-orang yang memiliki ipk diatas tiga bisa dijamin memiliki pemahaman yang lebih baik? Apalagi jika berasal dari perguruan tinggi yang berbeda, karena menurut pengalaman ( kayak yang sudah tua aja….J) kesulitan dalam mendapatkan ip itu berbeda….contoh perguruan tinggi A untuk mendapatkan nilai mata kuliah A harus belajar jungkir balik minta ampun….(he….J) berlebihan tapi di perguruan tinggi B hanya dengan sedikit usaha nilai A sudah ada ditangan.

Mari kita sama-sama renungkan dengan kepala dingin…..(merenung terus kapan nulisnya J).Ternyata setelah sedikit merenung kembali, penulis merasa sepertinya pendidkan formakl masih cukup penting….bill gates dan purdi Chandra mungkin 1 dari sepermilyar manusia dan tidak setiap orang bisa menjadi seperti mereka.penulis kan hanya manusia biasa …….jadi sepertinya masih memerlukan pendidikan formal.Okelah tapi penulis semakin sadar bahwa pendidikan formal yang sekarang sedang dijalani harus benar-benar dimanfaatkan jangan hanya mengejar nilai tapi harus mengejar ilmu dan skill.karena jika seluruh rakyat dinegeri ini gak ada yang menenmpuh pendidikan formal siapa yang akan mengurus Negara ini siapa yang akan menjadi geophysicist yang mengelola kekayan Negara ini (sst…. Ini cita-cita)

So kesimpulan penulis teruslah belajar…….jangan ingin mencari jalan pintas….semangat .!!!!!besok ujian well log ( kalo ujian kenapa masih nulis ?!!!, ya untuk refreshing sbentar dari pada melamun yang mending nulis…..:J)

 

*)Sedikit perenungan dari apa yang sedang ditempuh….





Chalange of Natural Disaster in the future in Indonesia *]

6 11 2007

My country Indonesia, is located in South East between two Ocean which are Indian and Pacific Ocean and two continent asia and austaralia.Indonesia is tropical country and has very fertile land and many forest on it.But in the several years many tropical forest regions have been damage due to the increasing land demand as an effect of demographic growing (The number of Indonesian Population exceeds 220 million in the year of 2000). As a result, environment quality is decreasing thus generates, or at least exacerbated the worse impact of natural disaster. Indonesia is a country with a high level of sensitivity to disasters.

My country is a tectonic region, as a result many natural disaster will happen such as : volcanic eruption and earthquake.Indonesia have three major active tectonic plate which are Eurasian in the north, Australian in the south and the last one south and pacific plate in the east.In geodynmics we know that plate movement generate subduction type of boundary which control on volcanic arc, and in Indonesia it is produce sumatera island, java island, nusa tenggara and Maluku

Subduction process also produce active seismicity along the volcanic arc and it is generate earthquake.Major earthquake stroke dense populated region such as Yogyakarta, Aceh, Bengkulu,liwa, Bali and Nusa Tenggara.

Another natural hazard are generated by tectonic activity are vocanic eruption and tsunami. In Indonesia the most famous case recently is merapi case and tsunami in aceh .Some transform fault are well known as earthquake generator are The great Sumatera fault (semangko fault), Palu koro (Central Sulawesi) fault, and sorong Fault.

Indonesia have more than 500 volcanoes including 128 active volcanoes.it is 15% of the active volcanoes in the world.Majority Indonesian people live in Sumatera island, java island, Bali island, Nusatenggara island, and Sulawesi island.All of the island have risk about volcanic eruption. . The most active volcano in Indonesia is Merapi which is situated 20 kilometers to the north of Yogyakarta.

Comprehensive emergency management is s widely used to approach at all levels of government to deal with the inevitability of natural hazards and their potential to cause disasters in a given community The components of a comprehensive emergency management system include:

  • Preparedness activities involve at least two types of activities. Structural activities include actions to prepare for the imminent arrival of a hazard event. Non-structural activities involve taking steps to minimize damage to personal property and to minimize harm to individuals. Preparedness activities include development of response procedures, design and installation of warning systems, exercises to test emergency operational procedures and training of emergency personnel.
  • Response activities occur during or immediately following the disaster and include time-sensitive activities such as search and rescue operations, evacuation, emergency medical care, food and shelter programs. Response activities are designed to meet the urgent needs of disaster victims.

· Recovery activities are emergency management actions that begin after the disaster, as urgent needs are met. These actions are designed to put the community back together and include repairs to roads, bridges and other public facilities, restoration of power, water and other municipal services and other activities that help restore normal operations to a community

· Mitigation activities reduce or eliminate the damages from hazardous events. These activities can occur before, during and after a disaster and overlap all phases of emergency management. Structural mitigation pertains to actions such as constructing disaster-resistant structures and retrofitting existing structures to withstand events. Non-structural mitigation activities include development of land use plans, zoning ordinances, subdivision regulations and tax incentives and disincentives to discourage development in certain high-hazard areas. Mitigation also includes education programs for members of the public about the hazards to which their community is vulnerable, as well as the importance of mitigation and how to prepare their property to withstand a disaster.

Nevertheless, the experiences and knowledge acquired in other countries, with better emergency management systems, should be taken into consideration. A comparative study on emergency preparedness must be conducted at the Southeast Asia regional level. An evaluation must be conducted on existing tools and mechanisms in civil protection and defense in other countries.

*] Disampaikan pada saat Seleksi Program beasiswa japan airlines

 

 





Perjalanan Panjang

5 11 2007

Masih banyak tempat yang belum bisa kudatangi

Masih banyak tanah yang belum bisa kuinjak

Masih banyak udara yang belum kuhirup

Masih banyak suara yang belum bisa kudengar

Masih banyak gunung yang belum kudaki

Masih banyak nyanyian yang belum kulantunkan

ah……

ternyata belum banyak yang bisa kulakukan…





Identifikasi Penyebaran Limbah Cair Menggunakan metode Geolistrik *

5 11 2007

Seiring dengan pesatnya pertumbuhan industri di Indonesia, permasalahn limbah khususnya limbah cair menjadi salah satu permasalahan yang cukup besar yang dihadapi oleh lingkungan hidup saat ini.Tidak hanya industri saja yang menjadi penyumbang limbah, rumah tangga 40%, rumah sakit, pertanian dan peternakan 30% turut memperparah kondisi lingkungan hidup kita saat ini. (Kurniadie,199 8)

Limbah cair merupakan sisa buangan hasil suatu proses yang sudah tidak dipergunakan lagi, baik berupa sisa industri, rumah tangga, peternakan, pertanian, dan sebagainya.Komponen utama limbah cair adalah air (99%) sedangakan komponen lainnya bahan padat yang bergantung asal buangan tersebut.(Rustama et. al, 1998).

Tempat Penbuangan Akhir sampah bisa juga menimbulkan limbah cair yang tidak kalah berbahayanya.Hal ini diakibatkan oleh pembusukan material-material organik yang pernah di buang di tempat ini.Sebagai salah satu TPA yang ada di kota Cimahi , TPA Leuwi gajah pun tidak menutup kemungkinan bisa menghasilkan limbah cair.Limbah cair ini merembes ke dalam tanah dan menyebar ke daerah di sekitarnya.

Di dalam tanah, seperti halnya fluida yang lain, limbah cair ini menyebar mengikuti topografi bawah tanah yang ada di daerah tersebut.Banyak resiko yang bisa ditimbulkan oleh hal ini, salah satunya limbah cair ini bisa mengintrusi daerah pemukiman penduduk.Jika limbah ini terus menyebar, maka bisa mengintrusi sumber air bersih penduduk yang ada di sekitarnya.

Mengingat berbahayanya hal ini, maka diperlukan suatu metode untuk mengetahui pola intrusi limbah cair ke permukaan bawah tanah di sekitar TPA Leuwi Gajah.Limbah cair ini menyebar di bawah permukaan tanah sehingga tidak dapat dideteksi langsung secara kasat mata.Diperlukan sebuah metode untuk mengetahui pergerakannya.Metode yang cocok untuk menyelasaikan problem ini adalah dengan mengguanakan metode geolistrik.

Dengan menggunakan metode ini diharapkan kita bisa melihat sampai sejauh mana pergerakan limbah cair tersebut.

 

 

 

*Disampaikan Pada saat persentasi Lomba Inovasi sains dan Teknologi 2006